Iran Menolak Pembicaraan AS saat Selat Hormuz Tetap Ditutup Kepala PBB Temui Perwakilan Masyarakat Sipil Suriah di Damaskus Pemimpin Oposisi Israel: Prajurit Bayar Harga Kebijakan “Ceroboh” Netanyahu Iran: Pertukaran Pesan dengan AS Berlanjut, Namun Syarat untuk Berunding Tidak Ada Tentara Lebanon Kecam ‘Serangan dan Pelanggaran’ Israel yang Terus Berlangsung Protes Meletus di Tripoli atas Pemadaman Listrik, Jalan dan Kementerian Ditutup Haft Mewa: Tradisi Nowruz Afghanistan yang Kaya Makna dan Cita Rasa Tentara Sudan Klaim Kuasai Jalan Raya Strategis Penghubung Khartoum dan el-Obeid DR Kongo: Operasi Perenco Picu Ancaman Pencemaran Berat bagi Warga Muanda Dolar AS Turun Setelah AS Menangguhkan Serangan ke Iran Iran Menolak Pembicaraan AS saat Selat Hormuz Tetap Ditutup Kepala PBB Temui Perwakilan Masyarakat Sipil Suriah di Damaskus Pemimpin Oposisi Israel: Prajurit Bayar Harga Kebijakan “Ceroboh” Netanyahu Iran: Pertukaran Pesan dengan AS Berlanjut, Namun Syarat untuk Berunding Tidak Ada Tentara Lebanon Kecam ‘Serangan dan Pelanggaran’ Israel yang Terus Berlangsung Protes Meletus di Tripoli atas Pemadaman Listrik, Jalan dan Kementerian Ditutup Haft Mewa: Tradisi Nowruz Afghanistan yang Kaya Makna dan Cita Rasa Tentara Sudan Klaim Kuasai Jalan Raya Strategis Penghubung Khartoum dan el-Obeid DR Kongo: Operasi Perenco Picu Ancaman Pencemaran Berat bagi Warga Muanda Dolar AS Turun Setelah AS Menangguhkan Serangan ke Iran

Tradisi Zikir dan Qasidah Rohingya: Harmoni Budaya Arab, Bengal, dan Lokal dalam Perayaan Islam

Admin July 5, 2026 at 12:32
Tradisi Zikir dan Qasidah Rohingya: Harmoni Budaya Arab, Bengal, dan Lokal dalam Perayaan Islam

Tradisi Zikir dan Qasidah Rohingya: Harmoni Budaya Arab, Bengal, dan Lokal dalam Perayaan Islam

Pendahuluan

Di tengah kekayaan tradisi Islam nusantara, terdapat sebuah komunitas yang mempertahankan praktik keagamaan unik yang menggabungkan pengaruh beberapa peradaban: masyarakat Rohingya. Tradisi kolektif zikir dan pembacaan syair keagamaan (naat/qasidah) dalam bahasa Rohingya menjadi ekspresi mendalam dari identitas spiritual dan budaya mereka, terutama pada perayaan Islam besar seperti Maulid Nabi dan Idulfitri.

Praktik ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan representasi hidup dari perpaduan pengaruh Arab, Bengal, dan unsur-unsur lokal yang telah terjalin erat selama berabad-abad. Artikel ini mengeksplorasi kekayaan tradisi tersebut dan signifikansinya dalam menjaga identitas komunitas Rohingya.

Sejarah Perayaan Maulid Nabi dan Fondasi Tradisi

Akar Historis Maulid Nabi

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki sejarah panjang dalam Islam. Menurut catatan sejarah, tradisi besar-besaran ini bermula pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir dan berkembang signifikan pada era penguasa Zengiyah dan Sultan Al-Mudhaffar. Dokumentasi menunjukkan bahwa Sultan Muzhaffaruddin al-Kaukabri dari Irbil pada awal abad ke-7 Hijriyah merupakan salah satu pelopor perayaan berskala besar yang melibatkan seluruh masyarakat.

Praktik ini mendapat dukungan dari berbagai ulama terkemuka sepanjang sejarah Islam. Dasar teologis perayaan ini terletak pada ayat Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 56 yang memerintahkan untuk bershalawat kepada Nabi, serta hadis tentang memulai kebaikan (HR. Muslim). Bahkan Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan berpuasa setiap hari Senin sebagai bentuk syukur, yang menjadi inspirasi umat untuk menghormati hari kelahirannya.

Ekspresi Lokal Maulid di Berbagai Wilayah

Perayaan Maulid tidak memiliki bentuk tunggal, melainkan beragam sesuai dengan konteks budaya lokal:

  • Saudi Arabia: Penekanan pada pembagian makanan dan kegiatan amal
  • Indonesia: Perayaan unik seperti Grebek di Yogyakarta, Walima, dan hidangan khas di Gorontalo
  • Turki: Pengajian besar-besaran dengan partisipasi masif
  • Aceh: Ritual “Zikir Meudike” sebagai bentuk peringatan kolektif

Keberagaman ini menunjukkan bahwa Islam memiliki fleksibilitas untuk beradaptasi dengan budaya lokal sambil mempertahankan esensi keagamaan.

Tradisi Zikir dan Qasidah dalam Budaya Rohingya

Pengertian dan Signifikansi

Zikir adalah pengingatan diri kepada Allah melalui pengulangan doa dan pujian. Dalam tradisi Rohingya, zikir kolektif (zikir bersama-sama) menjadi momen penting di mana seluruh komunitas bersatu dalam ketaatan dan pemuliaan kepada Allah dan Rasulnya. Praktik ini mencerminkan kedalaman spiritual yang telah tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Rohingya.

Sedangkan qasidah (atau naat dalam bahasa Rohingya) adalah syair keagamaan yang menampilkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan nilai-nilai Islam. Pembacaan qasidah bukan hanya sekadar seni sastra, tetapi merupakan instrumen dakwah yang powerful, menggerakkan emosi dan spiritual pendengarnya.

Bahasa Rohingya: Jembatan Tiga Peradaban

Bahasa Rohingya menjadi medium unik yang menghubungkan tiga pengaruh peradaban:

1. Pengaruh Arab

  • Kosakata keagamaan yang kaya
  • Struktur doa dan zikir mengikuti tradisi Arab
  • Metode pembacaan Qur’an dan hadis
  • Syair qasidah mengadopsi gaya puisi Arab klasik

2. Pengaruh Bengal

  • Fonologi dan gramatikal bahasa Rohingya banyak dipengaruhi Bengali
  • Tradisi nyanyian keagamaan yang meriah mirip dengan praktik Bengal
  • Elemen budaya lokal Bengali yang terislamkan

3. Unsur Lokal

  • Melodi dan ritme khas Rohingya
  • Penggunaan instrumen musik tradisional
  • Adaptasi terhadap iklim sosial dan budaya setempat
  • Narasi lokal yang relevan dengan kehidupan komunitas

Perayaan Maulid Nabi dalam Tradisi Rohingya

Persiapan dan Pengorganisasian

Perayaan Maulid Nabi di komunitas Rohingya dimulai dengan persiapan yang matang berbulan-bulan sebelumnya. Kelompok zikir dan seniman qasidah latihan intensif untuk menyiapkan pertunjukan terbaik mereka.

Organisasi acara biasanya melibatkan:

  • Pemimpin spiritual (imam dan ulama)
  • Master zikir yang berpengalaman puluhan tahun
  • Penyair dan penyaji qasidah
  • Anggota komunitas yang secara sukarela ikut mempersiapkan

Ritme Perayaan

Perayaan Maulid Nabi dalam komunitas Rohingya mengikuti pola yang telah teruji waktu:

Sore Hari: Pembukaan dengan ceramah tentang sejarah dan kehidupan Nabi Muhammad SAW

Malam Awal: Zikir pembuka, dilanjutkan dengan pembacaan qasidah bersuara yang merdu. Setiap qasidah menceritakan aspek berbeda dari kehidupan Nabi—dari masa kecil, dakwahnya, hingga keteguhannya menghadapi lawan.

Intensitas Pertengahan Malam: Zikir mencapai puncaknya dengan suara yang semakin lantang dan emosi peserta yang semakin dalam. Peserta berdiri, saling bergandeng tangan, mengulangi kalimah tayyibah dengan khusyuk.

Fajar: Penutupan dengan shalawat bersama dan doa untuk ummat Islam, dilanjutkan dengan hidangan makanan berkah (biasanya makanan tradisional Rohingya).

Perayaan Idulfitri: Eksplorasi Syukur

Konteks Spiritual

Jika Maulid Nabi adalah perayaan memuliakan Nabi, maka Idulfitri adalah perayaan syukur atas kedisiplinan puasa sebulan penuh. Dalam tradisi Rohingya, Idulfitri dirayakan dengan penuh kegembiraan yang tak kalah meriah dari Maulid.

Program Zikir dan Qasidah di Idulfitri

Pada hari Idulfitri, setelah melaksanakan shalat bersama di masjid atau lapangan, komunitas Rohingya mengadakan sesi zikir syukur yang khas:

Pagi Raya: Zikir takbiran dengan irama yang ceria dan menggembirakan

Siang: Pembacaan qasidah dengan tema syukuran dan kebahagiaan. Qasidah-qasidah yang dibawakan lebih ringan dan mengalun menyenangkan dibanding peringatan Maulid yang lebih khidmat.

Sore dan Malam: Kumpulan keluarga besar dengan zikir ringan dan pembacaan syair yang lebih santai, sambil nikmati makanan tradisional.

Karakteristik Zikir Rohingya

Teknik dan Metode

Zikir dalam tradisi Rohingya memiliki ciri-ciri spesifik:

1. Ritme dan Irama

  • Menggunakan beat yang konsisten dan mudah diikuti
  • Sering dikombinasikan dengan gerakan tubuh yang harmonis
  • Melodi disesuaikan dengan kapasitas paru-paru untuk menciptakan flow spiritual

2. Kolektivitas

  • Zikir dilakukan bersama-sama dalam lingkaran
  • Peserta saling melihat mata untuk menunjukkan kesatuan
  • Suara yang dihasilkan adalah harmoni dari ratusan atau ribuan peserta

3. Konten Spiritual

  • Fokus pada tawhid (keesaan Allah)
  • Pujian kepada Nabi Muhammad SAW
  • Doa untuk keselamatan umat

Dampak Psikologis dan Spiritual

Peserta zikir sering melaporkan:

  • Perasaan dekat dengan Allah
  • Pengalaman spiritual yang mendalam
  • Rasa persatuan dengan komunitas
  • Catharsis emosional yang menyehatkan
  • Penguatan identitas keagamaan

Qasidah Rohingya: Syair Bernafas Iman

Struktur dan Komposisi

Qasidah Rohingya mengikuti struktur puisi tradisional dengan adaptasi lokal:

Metrik: Menggunakan pattern syllabic yang teratur untuk memudahkan hafalan dan nyanyian

Rima: Rima internal dan akhir untuk menciptakan keindahan bunyi

Tema: Berkisar dari sejarah Nabi, nilai-nilai moral Islam, hingga kisah para sahabat

Contoh Tema Qasidah

Qasidah Kelahiran Nabi: Menggambarkan kegembiraan kelahiran Muhammad di tengah kegelapan spiritual Arab pra-Islam

Qasidah Hijrah: Menceritakan perjalanan Nabi dari Mekah ke Madinah dengan penuh dramatis

Qasidah Ghazwah: Mendeskripsikan peperangan Nabi dengan keberanian dan kebijaksanaannya

Qasidah Akhlak: Mengajarkan akhlak mulia melalui cerita nyata dari kehidupan Nabi

Pengaruh Arab dalam Praktik Rohingya

Fondasi Teologis

Pengaruh Arab paling terasa dalam aspek teologis dan akademis:

  • Ilmu Tawhid: Konsep monotheisme Islam dari para ulama Arab klasik
  • Fiqih: Hukum-hukum Islam yang diikuti mengikuti madzhab Arab (Syafi’i, Hanafi)
  • Bahasa: Kosakata Arab yang terintegrasi dalam bahasa Rohingya untuk istilah-istilah keagamaan

Musik dan Seni

  • Gaya pembacaan Qur’an mengikuti irama tajweed Arab
  • Metode nyanyian qasidah mengadopsi gaya ghina’i (nyanyian) Arab
  • Instrumen musik beberapa menggunakan jenis yang populer di dunia Arab

Tokoh-Tokoh Inspirasi

Masyarakat Rohingya banyak mengaji kepada ulama Arab atau bekas pelajar di Mesir, Arab Saudi, dan negara Arab lainnya. Pengaruh ini tercermin dalam interpretasi agama dan cara mengamalkannya.

Pengaruh Bengal dalam Budaya Rohingya

Bahasa dan Dialek

Bahasa Rohingya sangat dipengaruhi bahasa Bengali, terutama dalam:

  • Struktur gramatikal
  • Fonetik dan fonologi
  • Banyak kosakata sehari-hari

Tradisi Musik Keagamaan

Rohingya mengadopsi gaya nyanyian keagamaan Bengal yang meriah dan penuh emosi:

  • Penggunaan ornamen melodi yang kompleks
  • Dinamika yang bervariasi dari lembut hingga sangat meriah
  • Keterlibatan penuh emosi dalam setiap penampilan

Elemen Budaya

  • Menutup kepala perempuan dengan cara mirip tradisi Bengal
  • Peralatan dapur dan makanan yang mirip Bengali
  • Pola sosial masyarakat yang mencerminkan budaya Bengal

Pengaruh Lokal dan Adaptasi Kontekstual

Iklim dan Geografi

Keadaan geografis wilayah Rohingya mempengaruhi cara merayakan:

  • Perayaan diadakan di bulan-bulan tertentu dengan mempertimbangkan cuaca
  • Lokasi acara disesuaikan dengan kondisi alam (lapangan terbuka, masjid besar)
  • Waktu pelaksanaan menyesuaikan dengan ritme kehidupan petani dan nelayan lokal

Interaksi Sosial

  • Perayaan melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali
  • Nilai gotong royong dan musyawarah diterapkan dalam persiapan acara
  • Makanan berkah yang dibagikan adalah hasil pertanian dan peternakan lokal

Identitas Komunitas

Praktik zikir dan qasidah menjadi penanda identitas yang membedakan Rohingya dari komunitas Muslim lain:

  • Dialek bahasa yang unik
  • Melodi khas yang mudah dikenali
  • Pakaian tradisional yang dikenakan saat perayaan

Pembelajaran dan Transmisi Tradisi

Sistem Mentoring

Tradisi ini diwariskan melalui sistem mentoring tradisional:

Master Zikir: Tokoh berpengalaman yang melatih generasi muda cara berdzikir dengan benar, dengan penekanan pada:

  • Tajweed dalam pengucapan
  • Ritme dan irama yang tepat
  • Kondisi hati dan spiritualitas

Penyair dan Penyaji Qasidah: Mereka yang memiliki bakat khusus dalam menyajikan qasidah dengan indah, dilatih untuk:

  • Hafalan qasidah-qasidah klasik
  • Kreativitas dalam menciptakan qasidah baru
  • Interpretasi yang tepat dari setiap bait

Pendidikan Informal

  • Keluarga: Anak-anak sejak kecil diajak zikir keluarga
  • Pengajian: Majlis ta’lim di masjid tempat anak-anak diajarkan dasar zikir
  • Partisipasi: Keikutsertaan langsung dalam perayaan memberi pembelajaran praktis

Tantangan dan Pelestarian Tradisi

Tantangan Modernisasi

Di era globalisasi dan modernisasi, tradisi Rohingya menghadapi beberapa tantangan:

Generasi Muda

  • Minat yang berkurang terhadap tradisi lokal
  • Pengaruh musik modern yang dianggap lebih menarik
  • Mobilitas geografis yang menjauhkan dari komunitas

Keterbatasan Media

  • Kurangnya dokumentasi profesional
  • Akses terbatas terhadap materi pembelajaran digital
  • Tidak adanya platform khusus untuk promosi tradisi

Upaya Pelestarian

Dokumentasi: Merekam video dan audio dari pertunjukan qasidah terbaik

Pendidikan: Mengintegrasikan pembelajaran zikir dan qasidah dalam kurikulum pendidikan Islam

Festival: Mengadakan festival tahunan untuk memamerkan tradisi kepada generasi muda dan komunitas lain

Media Digital: Memanfaatkan YouTube, podcast, dan platform media sosial untuk menyebarkan tradisi

Pembelajaran dari Sumber Akademis

Berbagai lembaga akademis telah mengakui pentingnya preservasi tradisi keagamaan lokal. Contohnya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui Mabna Syarifah Muda’im mengadakan program peringatan Maulid Nabi yang menggabungkan Qiraatul Khobar, Ghina Arabi, dan pembacaan Barzanji. Program ini menunjukkan komitmen untuk:

  • Melestarikan bahasa Arab dan praktik keagamaan
  • Memotivasi institusi lain untuk melakukan hal serupa
  • Menghubungkan dakwah Rasulullah dengan perayaan kontemporer

Demikian pula, penelitian tentang tradisi Maulid dan Idulfitri di berbagai wilayah menunjukkan bahwa praktik lokal yang beragam tetap mempertahankan esensi spiritual yang sama.

Dampak Sosial dan Spiritual

Kohesi Sosial

Zikir dan qasidah kolektif memperkuat:

  • Ikatan emosional antar anggota komunitas
  • Rasa kebersamaan dalam menghadapi tantangan hidup
  • Transmisi nilai-nilai moral kepada generasi berikutnya

Kesehatan Mental

Praktik zikir terbukti memiliki manfaat psikologis:

  • Mengurangi stress dan kecemasan
  • Meningkatkan fokus dan konsentrasi
  • Memperkuat sense of belonging

Penguatan Identitas Keagamaan

  • Membantu komunitas Rohingya mempertahankan identitas Islam yang kuat
  • Menjadi media dakwah yang efektif kepada generasi muda
  • Memperdalam pemahaman tentang sejarah dan nilai-nilai Islam

Kesimpulan

Tradisi kolektif zikir dan pembacaan qasidah dalam bahasa Rohingya merepresentasikan perpaduan yang indah antara pengaruh Arab, Bengal, dan unsur-unsur lokal. Praktik ini bukan hanya ritual keagamaan belaka, tetapi merupakan ekspresi mendalam dari identitas spiritual, budaya, dan sosial komunitas Rohingya.

Perayaan Maulid Nabi dan Idulfitri menjadi momentum penting di mana tradisi ini menampakkan keindahannya yang paling nyata. Melalui irama zikir yang merdu dan qasidah yang penuh makna, generasi demi generasi Rohingya terus menghayati nilai-nilai Islam sambil mempertahankan ciri khas budaya mereka.

Dalam era modern ini, pelestarian tradisi ini menjadi semakin penting. Dibutuhkan upaya terkoordinasi dari berbagai pihak—keluarga, institusi pendidikan, pemimpin spiritual, dan komunitas—untuk memastikan bahwa harmoni budaya dan spiritualitas ini terus hidup dan berkembang bagi generasi masa depan.

Tradisi Rohingya menjadi pembelajaran berharga bahwa Islam memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berkembang di berbagai konteks budaya tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Zikir dan qasidah Rohingya adalah bukti nyata dari universalitas Islam dan kekayaan ekspresi keagamaan manusia.

Photo by: Mohammed Alim, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.