Tentara Israel Menembak Bayi Palestina 7 Bulan di Hebron, Keluarga Sebut Dia Gugur
Berdasarkan laporan, seorang tentara Israel menembak seorang bayi Palestina berusia tujuh bulan di kawasan Tel Rumeida, Hebron, di Tepi Barat yang diduduki, pada Jumat (6/6/2026). Bayi itu, diidentifikasi sebagai Sam Fahd Abu Haikal, dinyatakan gugur setelah dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Menurut keterangan keluarga kepada media, mobil yang ditumpangi Sam bersama orang tuanya, saudara laki-laki berusia 11 tahun dan sang nenek berhenti ketika tentara memberi isyarat untuk berhenti. “Saya membawa mobil sampai berhenti total dan mengangkat tangan ke setir. Setelah itu mereka membuka tembakan,” kata ayahnya, Fahd Abu Haikal, sebagaimana dikutip dari laporan. Sumber lokal menyebutkan satu peluru mengenai wajah bayi tersebut dan melintasi kepala hingga mengenai pipi ibunya.
Saksi keluarga menyatakan bahwa setelah menembak, tentara itu menarik kembali unitnya dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Mobil itu benar-benar diam ketika mereka menembak, bayi berusia 7 bulan gugur dalam keadaan yang disebut keluarga sebagai ‘dibunuh dengan dingin’,” ujar ayah korban di pemakaman.
Israeli Defence Forces (IDF) mengatakan insiden tersebut “sedang ditinjau”. Hingga laporan ini ditulis, klaim tentang detail peristiwa — termasuk motif penembakan dan tindakan tentara sesaat setelah insiden — Belum dapat diverifikasi secara independen.
Menurut data PBB dan laporan hak asasi, kekerasan oleh pasukan Israel dan pemukim di Tepi Barat meningkat sejak Oktober 2023; PBB menyebut lebih dari 1.000 warga Palestina tewas di Tepi Barat dan Yerusalem Timur selama periode itu, termasuk ratusan anak. Kelompok hak asasi Israel Yesh Din melaporkan bahwa dakwaan terhadap tentara atas keluhan pelanggaran terhadap warga Palestina sangat jarang, dengan angka penuntutan kurang dari 1 persen dari ribuan pengaduan pada periode tertentu.
Sumber lokal menyebutkan bahwa kondisi kesehatan ibu korban membuat keluarga menunda memberi tahu kematiannya sampai hari berikutnya untuk menghindari syok. Keluarga menuntut pertanggungjawaban dan penyelidikan yang transparan: “Saya menuntut agar tentara yang menembak itu dimintai pertanggungjawaban,” kata ayah korban.
Tim redaksi masih memverifikasi beberapa rincian peristiwa dan kronologi tepatnya. Belum dapat diverifikasi secara independen apakah ada peringatan tembakan terlebih dahulu atau apakah kendaraan dianggap sebagai ancaman oleh pasukan saat kejadian. Hingga laporan ini ditulis, proses penyelidikan resmi oleh pihak militer masih berlangsung dan klaim-klaim tambahan sedang ditelaah.
Photo by: Musa Alzanoun | موسى الزعنون, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel