13 Serangan Pemukim Terjadi di Tepi Barat dalam 24 Jam “Kami Mencicipi Kengerian Perang”: Kisah Pengungsi yang Kembali ke Tanah Air Tatreez: Seni Sulaman Tradisional Palestina yang Mewariskan Identitas Budaya Kasus Pertama Flu Burung H5 Terkonfirmasi di Australia Tim Pertahanan Sipil Padamkan Kebakaran Rumput di Rima Hazem, Rif Suwayda Israel dan Hezbollah Perbarui Gencatan Senjata Setelah Bentrokan Mematikan Mengganggu Pembukaan Pembicaraan Iran Meloni Terkejut Setelah Trump Klaim Ia ‘Memohon’ Foto, Ketegangan Diplomatik Meningkat Iran: AS harus pastikan Israel hentikan serangan di Lebanon agar diplomasi maju Foreign Policy: Dilema Penanganan Dugaan Kejahatan Perang di Suriah Menteri Israel Itamar Ben-Gvir: ‘All of Lebanon must burn’ 13 Serangan Pemukim Terjadi di Tepi Barat dalam 24 Jam “Kami Mencicipi Kengerian Perang”: Kisah Pengungsi yang Kembali ke Tanah Air Tatreez: Seni Sulaman Tradisional Palestina yang Mewariskan Identitas Budaya Kasus Pertama Flu Burung H5 Terkonfirmasi di Australia Tim Pertahanan Sipil Padamkan Kebakaran Rumput di Rima Hazem, Rif Suwayda Israel dan Hezbollah Perbarui Gencatan Senjata Setelah Bentrokan Mematikan Mengganggu Pembukaan Pembicaraan Iran Meloni Terkejut Setelah Trump Klaim Ia ‘Memohon’ Foto, Ketegangan Diplomatik Meningkat Iran: AS harus pastikan Israel hentikan serangan di Lebanon agar diplomasi maju Foreign Policy: Dilema Penanganan Dugaan Kejahatan Perang di Suriah Menteri Israel Itamar Ben-Gvir: ‘All of Lebanon must burn’

“Kami Mencicipi Kengerian Perang”: Kisah Pengungsi yang Kembali ke Tanah Air

Admin June 20, 2026 at 14:04
“Kami Mencicipi Kengerian Perang”: Kisah Pengungsi yang Kembali ke Tanah Air

Berdasarkan laporan PBB, gelombang kepulangan pengungsi pada 2025 mencapai hampir 15 juta orang — angka terbesar yang pernah tercatat oleh badan internasional itu. Menyusul gelombang tersebut, sejumlah pengungsi memilih kembali ke kampung halaman dengan harapan membangun kembali kehidupan, namun banyak dari mereka justru menghadapi trauma, kehilangan, dan ketidakpastian.

Menurut data dan laporan media internasional, kisah-kisah kepulangan ini beragam. Seorang tokoh yang berbagi pengalamannya adalah Michael Chen, yang menulis tentang pelarian keluarganya dari Vietnam pada 1979 sebagai “boat people” dan pengembaliannya ke kampung halaman bertahun-tahun kemudian. Chen menggambarkan bagaimana bantuan kemanusiaan—seperti vaksinasi dan pendidikan—membentuk masa depannya. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi pengingat bahwa investasi pada anak-anak pengungsi penting untuk masa depan mereka.

Sementara itu, ratusan migran Nigeria yang pulang dari Afrika Selatan menemukan realitas yang keras di tanah air mereka. Seorang pemulang, Iniebong James, mengatakan bahwa meski merasa lega karena kembali, tantangan ekonomi yang sama yang membuat mereka pergi tetap mengintai. Hingga laporan ini ditulis, banyak returnee yang bergulat dengan kekurangan lapangan kerja dan layanan dasar. Tim redaksi masih memverifikasi rincian jumlah returnee dari setiap wilayah dan kondisi layanan yang tersedia.

Di perbatasan lain, pengungsi dari wilayah utara Israel yang mengungsi akibat ketegangan di perbatasan Lebanon berbagi kisah kehilangan masa muda dan rasa aman. Sebuah laporan yang mengangkat pengalaman lulusan sekolah menengah di Kiryat Shmona menggambarkan betapa kehidupan siswa terhenti oleh pandemi dan perpindahan akibat konflik. Sumber lokal menyebutkan bahwa rasa ketidakpastian dan trauma masih membekas, terutama di kalangan keluarga yang rumah dan mata pencahariannya terguncang.

Beberapa pengungsi melaporkan kehilangan anggota keluarga dalam kekerasan yang mereka tinggalkan. Sumber lokal menyebutkan bahwa di antara korban ada yang berasal dari komunitas muslim yang gugur dan ada pula warga dari komunitas lain yang tewas; informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen. Tim redaksi masih memverifikasi klaim-klaim itu dengan catatan resmi dan sumber yang dapat dipercaya.

Kisah-kisah kecil juga menonjol di tengah arus besar kepulangan. Di Ethiopia, misalnya, viralnya video seorang anak, Markos Abaye, yang membawa ayam sakit ke rumah sakit manusia menggambarkan betapa aneh dan memilukan dampak displacement pada anak-anak: mereka tumbuh tanpa akses layanan yang memadai dan terkadang salah kaprah soal dunia di sekitar mereka.

Hingga laporan ini ditulis, organisasi kemanusiaan mendesak negara-negara dan donor internasional untuk meningkatkan dukungan bagi proses pemulangan yang aman dan bermartabat. Sumber internasional menilai bahwa program vaksinasi, pendidikan, dan lapangan kerja harus menjadi prioritas agar anak-anak dan keluarga pengungsi tidak terjebak dalam siklus kerentanan.

Belum dapat diverifikasi secara independen detail tentang berapa banyak dari mereka yang mengalami kerugian materiil atau jiwa setelah kembali, dan apakah mereka menerima kompensasi atau bantuan jangka panjang. Tim redaksi masih memverifikasi pernyataan pihak berwajib, data lokal, dan kesaksian langsung dari para pemulang.

Kepulangan massal ini mengingatkan bahwa pulang bukan berarti selesaikan semuanya. Bagi banyak orang, kembali ke rumah adalah awal dari perjuangan baru: memulihkan trauma, menata kembali mata pencaharian, dan membangun kembali komunitas yang hancur oleh perang dan konflik.

Photo by: Ahmed akacha, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.