Perang Iran: Sekalipun Ada Perjanjian Damai, Krisis Energi Tak Segera Teratasi
Berdasarkan laporan dari organisasi internasional dan beberapa media, gangguan pasokan energi global akibat konflik AS-Iran diperkirakan tidak akan cepat pulih meski kedua pihak menyepakati penghentian sementara permusuhan.
Menurut data OECD dan laporan pers internasional, lalu lintas melalui Selat Hormuz anjlok hingga sekitar 90% dan hampir 20% pasokan minyak serta gas dunia terganggu. OECD memperingatkan gangguan berkepanjangan dapat membuat pertumbuhan ekonomi global merosot menjadi sekitar 1,8% pada 2027 dan meningkatkan risiko resesi, inflasi tajam, serta lonjakan pengangguran.
Dampak paling berat dirasakan oleh ekonomi yang bergantung pada energi, terutama negara-negara di Asia dan negara berkembang. Menurut data, jutaan orang di wilayah miskin berisiko jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem akibat kenaikan harga bahan bakar dan pangan. OECD merekomendasikan agar pemerintah memberikan bantuan yang bersifat sementara dan terarah untuk melindungi kelompok paling rentan sambil mempertahankan insentif penghematan energi.
Para ahli mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz dan perbaikan infrastruktur yang rusak bukanlah pekerjaan singkat. Rehabilitasi jalur pelayaran, pelabuhan, pipa, dan fasilitas penyimpanan diperkirakan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sehingga tekanan pasokan global kemungkinan besar akan terus terasa dalam jangka menengah.
Beberapa laporan menyebutkan adanya kesepakatan sementara antara AS, Israel, dan Iran yang bertujuan meredakan ketegangan dan membuka kembali Selat Hormuz, termasuk paket bantuan finansial yang disebut sekitar 12 miliar dolar AS untuk Iran. Belum dapat diverifikasi secara independen rincian jumlah dan mekanisme bantuan tersebut, serta efektivitasnya untuk mengembalikan pasokan energi secara signifikan.
Sumber lokal menyebutkan upaya teknis dan diplomatik sudah dimulai untuk membersihkan rute pelayaran dan memperbaiki fasilitas yang rusak, namun pengerjaan di lapangan terhambat masalah keamanan serta kebutuhan waktu untuk inspeksi dan perbaikan menyeluruh. Para analis mengingatkan bahwa jeda konflik tidak otomatis menyelesaikan masalah struktural, seperti program pengayaan nuklir, sistem rudal balistik, dan jaringan proksi regional.
Beberapa pihak mengkritik kesepakatan yang muncul sebagai sekadar “gencatan sementara” yang memungkinkan militer tertentu tetap kuat dan menunda masalah mendasar. Pernyataan tersebut, seperti juga klaim tentang dampak kebijakan tertentu, belum dapat diverifikasi secara independen.
Hingga laporan ini ditulis, pasar energi global masih menunjukkan volatilitas, dan tekanan inflasi di banyak negara belum mereda. Tim redaksi masih memverifikasi berbagai klaim mengenai detail perjanjian dan dampak jangka panjangnya ke pasokan energi serta kondisi kemanusiaan di wilayah terdampak.
Photo by: Lara Jameson, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel