‘We are the lost generation of Sudan’: Pelajar Sudan di Pengasingan
Berdasarkan laporan, bertahun-tahun konflik yang melanda Sudan telah memaksa ribuan pelajar meninggalkan kampus dan melanjutkan hidup di pengasingan, baik di negara-negara tetangga maupun di kawasan yang lebih aman di dalam negeri.
Menurut data yang dikumpulkan oleh organisasi kemanusiaan dan pendidikan, gangguan terhadap layanan pendidikan — mulai dari penutupan universitas hingga pemutusan akses internet — membuat banyak pelajar tidak dapat meneruskan studi mereka atau menunda kelulusan.
Sumber lokal menyebutkan bahwa kondisi di kamp-kamp pengungsi dan komunitas pengasingan sangat sulit: kekurangan bahan ajar, fasilitas belajar yang minim, dan keterbatasan biaya hidup memaksa pelajar bekerja sambilan atau menghentikan sekolah. Beberapa pelajar menggambarkan situasi mereka dengan kalimat “We are the lost generation of Sudan”.
Hingga laporan ini ditulis, upaya untuk memulihkan akses pendidikan masih terhambat oleh ketidakstabilan keamanan dan kurangnya pendanaan. Beberapa klaim terkait bantuan dan program pendidikan darurat belum dapat diverifikasi secara independen.
Tim redaksi masih memverifikasi data rinci terkait jumlah pelajar yang terdampak, rute pengungsian, dan peran lembaga donor. Para aktivis dan organisasi internasional menyerukan solusi jangka panjang, termasuk pendanaan pendidikan darurat, program beasiswa, dan dukungan psikososial bagi “generasi yang hilang” ini.
Photo by: Ahmed akacha, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel