Parlemen Turki Setujui UU Bersejarah Untuk Reintegrasi Militan PKK ● Daraa Kembali Bergairah dalam ‘Mewarnai’ Festival Musim Panas Horan ● Trump Tuntut Kompensasi dari Iran atas Dugaan Kekejaman Selama 50 Tahun ● PBB: Operasi Militer Israel di Gaza Terus Menempatkan Warga Sipil ‘Berisiko’ ● Khamenei Lakukan Perombakan Besar pada Pimpinan Angkatan Bersenjata dan IRGC: Enam Penunjukan Baru ● Pejabat ‘Board of Peace’ AS: Rencana Gaza Masih Berlaku Meski Netanyahu Menolak ● Hampir 6.000 Mengungsi dalam Sehari di Darfur Barat: Laporan IOM ● Ahli PBB Kecam Lonjakan Serangan terhadap Warga Palestina di Wilayah yang Diduduki ● Palestinian Red Crescent Buka Rumah Sakit Lapangan di Gaza untuk Hampir 500.000 Orang ● Pengawal Revolusi Iran: Rudal Kini Bisa Ubah Arah Saat Terbang untuk Mengelabui Pertahanan Udara ● Parlemen Turki Setujui UU Bersejarah Untuk Reintegrasi Militan PKK ● Daraa Kembali Bergairah dalam ‘Mewarnai’ Festival Musim Panas Horan ● Trump Tuntut Kompensasi dari Iran atas Dugaan Kekejaman Selama 50 Tahun ● PBB: Operasi Militer Israel di Gaza Terus Menempatkan Warga Sipil ‘Berisiko’ ● Khamenei Lakukan Perombakan Besar pada Pimpinan Angkatan Bersenjata dan IRGC: Enam Penunjukan Baru ● Pejabat ‘Board of Peace’ AS: Rencana Gaza Masih Berlaku Meski Netanyahu Menolak ● Hampir 6.000 Mengungsi dalam Sehari di Darfur Barat: Laporan IOM ● Ahli PBB Kecam Lonjakan Serangan terhadap Warga Palestina di Wilayah yang Diduduki ● Palestinian Red Crescent Buka Rumah Sakit Lapangan di Gaza untuk Hampir 500.000 Orang ● Pengawal Revolusi Iran: Rudal Kini Bisa Ubah Arah Saat Terbang untuk Mengelabui Pertahanan Udara ●

Rumah Sakit Rehed El Bardi di South Darfur Terancam Tutup Setelah Dokter Terakhir Pergi

Admin August 7, 2026 at 01:04
Rumah Sakit Rehed El Bardi di South Darfur Terancam Tutup Setelah Dokter Terakhir Pergi

Berdasarkan laporan, Rumah Sakit Rehed El Bardi di South Darfur menghadapi ancaman penutupan setelah satu-satunya dokter yang melayani fasilitas tersebut meninggalkan rumah sakit. Menurut data dari sumber lokal, keberangkatan dokter ini meninggalkan ribuan warga tanpa akses ke layanan medis esensial.

Sumber lokal menyebutkan bahwa sejak pecahnya konflik pada April 2023, rumah sakit tersebut sudah mengalami kekurangan staf dan pasokan obat-obatan secara signifikan. Menurut data, warga setempat sebelumnya telah membentuk sebuah komite 11 anggota dan mendirikan dana komunitas untuk mencoba merekrut dokter baru dan mengamankan kebutuhan operasi rumah sakit.

Hingga laporan ini ditulis, ruangan perawatan darurat masih beroperasi secara terbatas dengan bantuan sukarelawan dan tenaga kesehatan non-dokter, namun layanan medis rutin dan operasi mayor tidak dapat dilaksanakan. Belum dapat diverifikasi secara independen klaim tentang jumlah pasien yang terdampak dan rincian sumber daya yang tersisa.

Komite lokal dan pemimpin masyarakat sedang menggalang dukungan dari diaspora serta donatur dalam negeri untuk menyokong keberlangsungan fasilitas tersebut, terutama menjelang musim penyakit musiman yang diperkirakan akan meningkat. Sumber lokal menyebutkan upaya tersebut adalah kelanjutan dari tradisi kemandirian komunitas; rumah sakit awalnya dibangun oleh penduduk pada tahun 1990-an.

Pihak berwenang setempat diimbau untuk memberikan bantuan darurat dan koordinasi logistik agar pelayanan kesehatan dapat dipertahankan. Tim redaksi masih memverifikasi rincian lebih lanjut terkait kondisi tenaga medis, persediaan obat, dan permintaan resmi kepada otoritas kesehatan.

Belum dapat diverifikasi secara independen laporan lengkap tentang situasi keuangan dana komunitas dan tawaran bantuan yang masuk. Tim redaksi masih memverifikasi pernyataan pihak-pihak terkait dan akan memperbarui berita ini setelah memperoleh konfirmasi tambahan.

Photo by: Anna Tarazevich, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.