PBB: Eskalasi Regional Mengancam ‘Momen Pivotal’ Pemulihan Suriah
Berdasarkan laporan yang disampaikan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa kepada Dewan Keamanan pada Selasa, Suriah berada pada titik kritis menuju pemulihan nasional, namun eskalasi regional dan kekurangan pendanaan berisiko membalikkan kemajuan tersebut.
Menurut data dari Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), sekitar 1,7 juta pengungsi dan 1,9 juta orang terlantar di dalam negeri telah kembali ke komunitas mereka sejak runtuhnya rezim Assad pada Desember 2024. Edem Wosornu, Direktur Crisis Response Division OCHA, mengatakan, “Suriah berada pada momen pivotal,” sekaligus memperingatkan bahwa kepulangan ini tidak akan berkelanjutan tanpa penanganan defisit besar pada perumahan, infrastruktur, dan akses ke layanan dasar.
Wosornu mengidentifikasi aktivitas militer Israel di wilayah selatan sebagai salah satu risiko regional yang nyata. Sumber lokal menyebutkan adanya pengerahan kendaraan lapis baja dan pasukan di beberapa area pedesaan Deraa, yang menurut laporan berpotensi meningkatkan ketegangan lintas perbatasan. Hingga laporan ini ditulis, informasi rinci mengenai dugaan insiden militer atau korban yang diakibatkan oleh pengerahan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan Tim redaksi masih memverifikasi klaim-klaim di lapangan.
Pejabat PBB menekankan bahwa masalah struktural — termasuk rumah yang rusak parah, layanan air dan listrik yang tidak memadai, serta sistem kesehatan yang rapuh — harus segera ditangani agar arus kembalinya pengungsi dan pemulihan ekonomi tidak mandek. Menurut data yang dipaparkan di Dewan Keamanan, kekurangan dana kemanusiaan dan pembangunan menjadi penghambat utama rekonstruksi jangka panjang.
Selain ancaman militer, pejabat PBB juga memperingatkan dampak politik dan ekonomi dari dinamika regional, termasuk sanksi yang longgar atau ketegangan antara aktor-aktor regional, yang dapat mempengaruhi aliran bantuan dan investasi. “Tanpa stabilitas regional dan dukungan finansial yang konsisten, apa yang telah dicapai dapat hilang dalam waktu singkat,” ujar Wosornu.
Organisasi kemanusiaan mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan komitmen pendanaan serta mendukung program perumahan, layanan dasar, dan penciptaan lapangan kerja. Sumber PBB menyatakan bahwa upaya rekonsiliasi lokal dan jaminan keamanan di tingkat komunitas menjadi prasyarat penting bagi reintegrasi pengungsi.
Beberapa laporan lapangan juga menyebut adanya ketakutan di kalangan warga yang kembali terkait keselamatan dan ketersediaan layanan. Sumber lokal menyebutkan bahwa banyak keluarga yang kembali menunda pemulangan karena kondisi rumah yang belum layak huni. Tim redaksi masih memverifikasi kondisi di lokasi-lokasi yang dilaporkan paling terdampak.
PBB mengakhiri penyampaian mereka ke Dewan Keamanan dengan peringatan tegas bahwa momen ini harus dimanfaatkan untuk investasi jangka panjang. Jika tidak, kombinasi instabilitas regional, operasi militer berskala kecil, dan defisit pendanaan dapat mengembalikan Suriah ke siklus krisis berkepanjangan. Belum dapat diverifikasi secara independen sejauh mana aktor-aktor regional akan mengubah pola dukungan atau intervensi mereka dalam beberapa minggu mendatang.
Photo by: Ahmed akacha, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel