Kabinet Israel Setujui Penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza Lebih dari 6.500 Serangan Pemukim di Tepi Barat Sejak Awal 2026, 25 Gugur Iran Menolak Pembicaraan AS saat Selat Hormuz Tetap Ditutup Kepala PBB Temui Perwakilan Masyarakat Sipil Suriah di Damaskus Pemimpin Oposisi Israel: Prajurit Bayar Harga Kebijakan “Ceroboh” Netanyahu Iran: Pertukaran Pesan dengan AS Berlanjut, Namun Syarat untuk Berunding Tidak Ada Tentara Lebanon Kecam ‘Serangan dan Pelanggaran’ Israel yang Terus Berlangsung Protes Meletus di Tripoli atas Pemadaman Listrik, Jalan dan Kementerian Ditutup Haft Mewa: Tradisi Nowruz Afghanistan yang Kaya Makna dan Cita Rasa Tentara Sudan Klaim Kuasai Jalan Raya Strategis Penghubung Khartoum dan el-Obeid Kabinet Israel Setujui Penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza Lebih dari 6.500 Serangan Pemukim di Tepi Barat Sejak Awal 2026, 25 Gugur Iran Menolak Pembicaraan AS saat Selat Hormuz Tetap Ditutup Kepala PBB Temui Perwakilan Masyarakat Sipil Suriah di Damaskus Pemimpin Oposisi Israel: Prajurit Bayar Harga Kebijakan “Ceroboh” Netanyahu Iran: Pertukaran Pesan dengan AS Berlanjut, Namun Syarat untuk Berunding Tidak Ada Tentara Lebanon Kecam ‘Serangan dan Pelanggaran’ Israel yang Terus Berlangsung Protes Meletus di Tripoli atas Pemadaman Listrik, Jalan dan Kementerian Ditutup Haft Mewa: Tradisi Nowruz Afghanistan yang Kaya Makna dan Cita Rasa Tentara Sudan Klaim Kuasai Jalan Raya Strategis Penghubung Khartoum dan el-Obeid

Mengapa Arab Saudi Tolerir Houthi sebagai ‘Belati di Sisi’?

Admin July 23, 2026 at 17:05
Mengapa Arab Saudi Tolerir Houthi sebagai ‘Belati di Sisi’?

Berdasarkan laporan internasional, serangkaian serangan yang diklaim oleh pemberontak Houthi dari Yaman telah menargetkan kapal-kapal tanker minyak dan infrastruktur maritim di Laut Merah, termasuk klaim serangan terhadap kapal tanker Saudi. Menurut data dari Al Jazeera, Reuters, dan Maritime Activity Reports, kelompok itu menyatakan pemberlakuan blokade laut terhadap rute di sekitar Selat Bab al-Mandeb sebagai pembalasan terhadap serangan udara yang menimpa Sanaa dan apa yang mereka sebut pengepungan ekonomi.

Menurut data, Houthi mengklaim telah menembakkan rudal dan menerbangkan drone menuju dua kapal tanker yang diidentifikasi oleh beberapa laporan sebagai Encelia dan Layla. Sumber lokal menyebutkan ada kebakaran di salah satu kapal, sementara beberapa laporan menyatakan kru kapal dilaporkan selamat. Hingga laporan ini ditulis, rincian lengkap kerusakan dan korban masih belum dapat diverifikasi secara independen.

Hingga laporan ini ditulis, ketegangan meluas ke dimensi regional: laporan menyebutkan Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan terhadap target yang dikaitkan dengan Iran, dan Iran dilaporkan membalas dengan menyerang infrastruktur dan aset militer di beberapa negara tetangga. Menurut data, konflik ini telah mendorong lonjakan harga minyak global dan pengalihan arus pelayaran internasional, dengan ancaman potensi terbentuknya dua titik macet strategis—Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb.

Pertanyaan kunci yang muncul adalah: mengapa Arab Saudi, yang merupakan target langsung dari serangan-serangan ini, tampak membiarkan Houthi beroperasi sebagai “belati di sisi”? Analisis pengamat dan diplomat yang dikutip dalam laporan menyebutkan beberapa faktor. Pertama, ada keterbatasan kemampuan militer yang efektif untuk menumpas Houthi tanpa memperluas perang menjadi konfrontasi langsung yang jauh lebih luas dengan Iran. Kedua, politik domestik dan pertimbangan internasional—termasuk upaya menghindari eskalasi yang bisa mengguncang pasar energi dunia—membuat Riyadh berhati-hati dalam merespons dengan tindakan yang bisa memicu perang regional.

Sumber lokal menyebutkan pula bahwa Saudi mungkin melihat nilai strategis jangka pendek dalam membiarkan kelompok yang terkait Iran itu tetap menjadi masalah yang dapat dikontrol sebagian—sebuah tekanan terus-menerus terhadap musuh regional tanpa harus mengorbankan sumber daya untuk kampanye darat yang mahal. Namun, beberapa analis menilai ini juga mencerminkan kekosongan strategi yang lebih luas: krisis-ciri dapat “dikelola” bukannya diselesaikan, meninggalkan celah bagi pihak-pihak ketiga untuk memanfaatkan situasi.

Dampak nyata dari pendekatan ini sudah terlihat: menurut data, gangguan pelayaran dan ancaman terhadap kapal komersial telah meningkatkan biaya asuransi dan mengganggu pasokan minyak, sementara serangkaian serangan yang saling membalas telah menimbulkan korban. Ada laporan awal tentang beberapa tentara Saudi yang gugur dalam insiden terkait, namun belum dapat diverifikasi secara independen. Di sisi lain, laporan juga menyebutkan adanya korban tewas di antara pasukan AS dalam respon-respon yang terjadi, tetapi detail identitas dan angka tetap belum jelas dan Tim redaksi masih memverifikasi.

Kesimpulannya, toleransi Riyadh terhadap keberadaan dan aktivitas Houthi tampak merupakan hasil kombinasi keterbatasan militer, pertimbangan politik dan ekonomi, serta pilihan strategis untuk menghindari eskalasi total. Namun pendekatan tersebut membawa risiko berkelanjutan bagi stabilitas kawasan dan bagi kelancaran pasokan energi global. Belum dapat diverifikasi secara independen apakah strategi ini dapat dipertahankan jangka panjang tanpa konsekuensi yang lebih parah bagi Saudi dan sekutu-sekutunya.

Tim redaksi masih memverifikasi klaim-klaim di lapangan dan akan memperbarui laporan bila informasi lebih tepercaya tersedia.

Photo by: Serra Nur Kaynak, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.