Kekayaan Apartheid Tak Bisa Membeli Keheningan atas Gaza
Berdasarkan laporan Al Jazeera oleh Tafi Mhaka, kekayaan yang diperoleh selama era apartheid kini digunakan untuk menekan kebebasan akademik di universitas-universitas Afrika Selatan.
Menurut data, University of Cape Town (UCT) kehilangan 250 juta rand dalam bentuk dana donor, terutama dari Donald Gordon Foundation, setelah universitas mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata di Gaza dan membatasi kerja sama dengan militer Israel. Penarikan dukungan itu terjadi setelah UCT menolak mengadopsi definisi anti-Semitisme IHRA dan memilih Jerusalem Declaration sebagai rujukan.
Sumber lokal menyebutkan bahwa hilangnya dana dan beasiswa tersebut akan berdampak tidak proporsional pada mahasiswa kulit hitam miskin yang sudah menghadapi ketidaksetaraan sistemik. Penulis artikel menyebut penarikan dana tersebut sebagai upaya “callous” untuk menggunakan kekayaan apartheid memaksa ketaatan politik dan membungkam solidaritas terhadap Palestina.
Mhaka juga menyoroti dampak krisis di Gaza: menurut laporan, serangan dan pengepungan telah menyebabkan banyak warga Palestina gugur dan kerusakan besar pada institusi pendidikan, fenomena yang disebutnya sebagai “scholasticide”. Hingga laporan ini ditulis, langkah-langkah korporasi donor terhadap institusi akademik dan rencana alternatif pendanaan oleh UCT belum diumumkan secara rinci.
Belum dapat diverifikasi secara independen sejumlah klaim terkait rincian penggunaan dana donor dan konsekuensi langsungnya terhadap setiap individu penerima beasiswa. Tim redaksi masih memverifikasi pernyataan dari Donald Gordon Foundation dan pihak universitas serta upaya-upaya mitigasi yang mungkin ditempuh oleh UCT. Artikel ini mendorong universitas-universitas Afrika Selatan untuk mempertahankan kemerdekaan akademik dan mencari sumber pendanaan yang tidak mengikat syarat ketaatan politik.
Photo by: Omar Ramadan, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel